PURWOREJO — Pemandangan tak biasa terlihat di Jalan Kutoarjo-Grabag, Senin (3/8/2026). Ratusan orang memadati pinggiran jalan dan badan Sungai Irigasi Silekor di Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, untuk mengikuti tradisi gogoh iwak.
Kegiatan tahunan yang digelar setiap awal Agustus ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk menangkap berbagai jenis ikan secara bebas. Mulai dari ikan nila, lele, tawes, nilem, gabus, hingga sidat menjadi incaran para peserta yang datang dari berbagai penjuru.
Tokoh masyarakat Kelurahan Semawung Daleman, Sri Raharjo, mengungkapkan bahwa tradisi ini biasanya digelar setiap 1 Agustus. Pelaksanaannya bertepatan dengan jadwal pengeringan irigasi dan pembersihan lumpur oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Probolo.
Namun, tahun ini pelaksanaannya diundur menjadi 3 Agustus. Penundaan jadwal tersebut nyatanya tidak menyurutkan antusiasme warga. Bahkan, banyak di antara mereka yang datang dari jauh dan memilih untuk bermalam di sekitar lokasi demi bisa ikut meramaikan pesta rakyat ini.
“Antusiasme masyarakat banyak sekali. Bahkan, ada yang dari Kecamatan Bener, Butuh, Kemiri, dan Loano,” jelas Sri Raharjo. “Ada yang katanya sampai menginap di sekitar lokasi untuk ikut tradisi gogoh iwak,” tambahnya.
Di balik kemeriahan acara, terdapat catatan penting yang disampaikan anggota DPRD Kabupaten Purworejo, Budi Sunaryo. Ia menilai kegiatan pengurasan Kali Silekor ini memiliki dua tujuan utama, yakni membersihkan sedimen sungai sekaligus melestarikan tradisi warga setempat.
Meski demikian, Budi menyoroti adanya keluhan dari warga mengenai menurunnya hasil tangkapan ikan pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar tradisi ini terus memberikan manfaat.
“Ini harus jadi evaluasi bersama. Mungkin bisa dikoordinasikan dengan dinas terkait agar sebelum dikuras ada penebaran bibit ikan dahulu, atau ada aturan main yang jelas agar tidak saling dorong,” tegasnya.
Sebagai wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kutoarjo, Budi Sunaryo berkomitmen untuk memperjuangkan keberlangsungan tradisi ini. Ia memastikan akan berkoordinasi dengan dinas terkait agar pelaksanaan gogoh iwak ke depan bisa lebih baik, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi warga.
“Intinya, saya sebagai anggota dewan Dapil Kutoarjo akan memperjuangkan agar tradisi ini tetap ada, aman, dan memberi manfaat nyata bagi warga,” tandasnya.