JEPARA — Ratusan siswa yang lolos seleksi jalur prestasi ini terdiri dari 40 siswa kelas VII SMP dan 40 siswa kelas X SMA. Mereka terbagi dalam empat rombongan belajar (rombel), masing-masing diisi 20 siswa. Pelepasan dilakukan langsung oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di Pendopo R.A. Kartini, Selasa (11/8/2026).
Kepala BBPMP Provinsi Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, mengungkapkan bahwa sebelum resmi menjadi peserta didik SNT, para siswa telah melewati tahapan seleksi yang ketat. Proses pendaftaran dibuka pada 21 Juli 2026 dan dilanjutkan dengan tes bakat skolastik.
“Yang masuk di SNT ini memang melalui jalur prestasi, baik akademik maupun nonakademik. Mereka sudah melewati beberapa tahapan seleksi,” ujar Nugraheni saat ditemui di sela acara pelepasan.
Nugraheni menekankan bahwa MPLS bukan sekadar pengenalan lingkungan fisik sekolah. Momen ini justru menjadi fondasi awal pembentukan karakter dan kesiapan mental siswa mengikuti pola pendidikan khas SNT yang berbeda dari sekolah konvensional.
“MPLS menjadi bagian awal dari pembinaan siswa sebelum mereka menjalani pembelajaran secara penuh,” jelasnya. Materi yang diberikan selama sepekan di Semarang pun lebih diarahkan pada penguatan karakter dibanding sekadar pengenalan akademik.
Keunikan SNT 14 terletak pada desain kurikulumnya yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu sistem pembinaan. Siswa akan menjalani pendidikan mulai kelas VII hingga kelas XII tanpa perpindahan sistem yang signifikan.
Kurikulum yang diterapkan tidak hanya mengacu pada standar nasional. Pembelajaran nantinya akan mengombinasikan pendekatan Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) dengan kearifan lokal Jepara.
“Pembelajaran nanti menggunakan pendekatan STEM. Materi MPLS yang diberikan juga lebih kepada penguatan karakter,” terang Nugraheni.
Model pembinaan di SNT 14 menerapkan sistem pendampingan personal. Setiap guru wali akan mendampingi siswa sejak hari pertama masuk hingga mereka menyelesaikan pendidikan di kelas XII.
Dengan pola ini, guru diharapkan tidak hanya berperan dalam proses transfer ilmu, tetapi juga mampu mengenali karakter, kemampuan, bakat, dan minat setiap siswa secara mendalam. Potensi tersebut kemudian diarahkan agar berkembang secara optimal.
“Harapannya hubungan antara guru dan siswa dekat, sehingga potensi anak bisa lebih dikenali dan diarahkan sesuai bakat dan minatnya,” pungkasnya.