JAWA TENGAH — Turnamen Tidar Drag Race Championship 2026 di Jalan AP Mokoginta, Kotamobagu Timur, berakhir menjadi tragedi ketika mobil dragster yang dikendarai Tian Ngantung dari Tim Mc Joe oleng ke kiri lintasan dan menghantam pagar pembatas di titik finis. Data dari Polres Kotamobagu mencatat 17 korban jiwa, dengan delapan orang meninggal dunia dan sembilan lainnya masih menjalani perawatan intensif di RS Monompia dan RSUD Kotamobagu.
Bukan Sekadar "Kecelakaan", Ini Kegagalan Struktur PengamanVideo yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi memprihatinkan: satu sisi lintasan hanya dibatasi tali tambang, sementara sisi lainnya memakai pagar besi non-standar. Praktisi keselamatan berkendara yang juga anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara IMI, Erreza Hardian, menegaskan bahwa kombinasi kecepatan tinggi, penonton yang berada terlalu dekat dengan lintasan, dan infrastruktur pengaman yang tidak memadai adalah resep bencana.
"Drag race itu jelas melibatkan kecepatan, kemudian ada penonton yang rentan berada di jalan dan sepertinya itu jalan aspal yang mulus, itu juga lurus serta kendaraan jelas sudah ada modifikasinya," ujar Reza kepada detikOto, Senin (10/8/2026).
Titik Kritis: Kecepatan, Jarak Penonton, dan Material PembatasBeberapa faktor krusial yang membuat insiden ini masuk kategori "kecelakaan yang bisa dicegah":
- Jarak aman nol meter: Penonton berdiri tepat di belakang pagar pembatas tanpa buffer zone. Standar sirkuit internasional mewajibkan jarak minimal 10-15 meter antara lintasan dan area penonton, dilengkapi armco barrier atau tire wall.
- Material pembatas: Tali tambang tidak memiliki kemampuan menyerap energi kinetik. Ketika mobil menabrak, energi pindah langsung ke tubuh penonton—berbeda dengan barrier berisi air atau tumpukan ban yang mendisipasi energi benturan.
- Kelas FFA (Free For All): Kategori ini biasanya mempertemukan mobil dengan spek mesin ekstrem tanpa pembatasan. Semakin tinggi tenaga, semakin besar risiko hilang kendali di kecepatan akhir.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.50 Wita. Mobil yang dikendarai Tian Ngantung mengalami masalah saat memasuki titik finis, kemudian oleng ke sisi kiri dan menabrak pagar pembatas di area penonton. Plt Kasi Humas Polres Kotamobagu AKP Joko Setiyono membenarkan total korban mencapai 17 orang.
"Total 17 yang jadi korban, 8 sudah meninggal, 9 luka dirawat," kata Joko dalam keterangannya, Senin (10/8/2026).
Petugas medis, panitia, dan anggota Polri yang melakukan pengamanan langsung mengevakuasi para korban ke fasilitas kesehatan terdekat. Namun, proses evakuasi yang cepat tidak mengubah fakta bahwa celah keselamatan sudah menganga sejak awal acara.
Pelajaran untuk Penyelenggara Event Otomotif di IndonesiaTragedi Kotamobagu mengulang pola kecelakaan serupa di berbagai daerah: ajang balap jalanan yang mengklaim "profesional" tetapi mengabaikan standar keselamatan dasar. Reza mengingatkan bahwa penonton biasanya mengasumsikan penyelenggara sudah memikirkan semua aspek risiko—padahal asumsi itu sering keliru.
"Jadi inilah yang memicu banyak korban. Wajar para penonton tidak melihat bahaya di situ apalagi ada risikonya," ujar Reza.
Yang Perlu Diperhatikan untuk Event Mendatang- Sertifikasi sirkuit: IMI dan kepolisian harus mewajibkan inspeksi lintasan sebelum event, termasuk audit material pembatas dan jarak penonton.
- Escape route: Area run-off yang cukup di ujung lintasan untuk menghentikan laju mobil yang gagal mengerem atau kehilangan kendali.
- Pembatas berstandar: Penggunaan tire wall atau water barrier minimal setinggi 1 meter dengan lebar minimal 2 lapis, bukan tali tambang.
- Manajemen penonton: Zonasi penonton dengan pagar pembatas ganda dan petugas keamanan yang aktif menertibkan area berbahaya.
Delapan nyawa melayang karena kelalaian yang sebenarnya bisa dihitung dengan logika sederhana: mobil balap bermesin modifikasi melaju di jalan lurus aspal mulus, dan manusia berdiri di belakang tali tambang. Sampai kapan pun, kombinasi itu tidak akan pernah berakhir aman. Insiden ini seharusnya menjadi titik balik bagi setiap penyelenggara drag race di Indonesia untuk berhenti bermain-main dengan keselamatan penonton.